15 May 2008

obat hati

Opick - Tombo Ati


Tombo Ati - Opick


tombo ati iku limo perkarane

kaping pisan moco Qur’an lan maknane

kaping pindo sholat wengi lakonono

kaping telu wong kang sholeh kumpulono

kaping papat kudu weteng ingkang luwe

kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

salah sawijine sopo biso ngelakoni

mugi-mugi Gusti Allah njembatani

[2x]


obat hati ada lima perkaranya

yg pertama, baca Qur’an dan maknanya

yang kedua, sholat malam dirikanlah

yg ketiga, berkumpullah dng orang sholeh

yg keempat, perbanyaklah berpuasa

yg kelima, dzikir malam perpanjanglah

salah satunya siapa bisa menjalani

moga-moga Gusti Allah mencukupi

[2x]



Lirik lagu Opick - Tombo Ati ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 Opick - Tombo Ati.

15:30 Posted in Music | Permalink | Comments (0) | Email this

21 April 2006

Install 2 OS dalam 1 PC (From MHW)

Kalau mau menggunakan Dual O/S atau Lebih dalam 1 kompi (Misalnay Windows
dgn Linux), silahkan atur terlebih dahulu Partisi Hardisk yg akan kamu
gunakan. Misalnya hardisk yg akan di gunakan adalah 40 GB, akan dibagi
menjadi 30 GM untuk Windows & 10 GB untuk Linux.

Setelah itu Install O/S Windows-nya terlebih dahulu daru kemudian Install
O/S Linux-nya. Karena Kalau yg di-install Linux-nya duluan, biasanya Windows
akan menghapus partisi dari Linux. Pada umumnya Windows tidak mau mengalah
dengan Linux. Kalau Linux sih pasti mengalah :-)

Kalau di partisi Windows yg 30 GB (Dengan catatan hardisk yng 30 GB tadi
dibagi-bagi lagi menjadi masing-masing 10 GB) tadi akan di Install beberapa
versi Windows lagi, Misalnya : Windows 2000 Prof/Server (10 GB), Windows Xp
(10 GB) dan Windows Server 2003 (10 GB). Install mulai dari versi Windows yg
paling rendah dulu. Jadi secara berurutan : Windows 2000, Windows XP baru
Windows Server 2003-nya.

Kalau mau instalasi Linux setelah O/S Windows-nya ada ada beberapa cara yang
dapat dilakukan. Bisa Linux Text atau GUI. Kalau masih baru pemula, rasanya
lebih tepat untuk menggunakan GUI-=nya saja. Yang harus diperhatikan adalah
dalam instalasi Linux, ada beberapa partisi yang bisa dipergunakan. Antara
lain adalah :
1. / -> Sekitar 1000 MB
2. /boot -> Sekita 300 MB
3. /swap -> Sekitar 2X Memory kompi yg digunakan
4. /home -> Sisa hardisk yang digunakan (Kalau mesin Linux-nya mau dijadikan
Mail Server space-nya agak diperbesar)
5. /var -> Kalau mau mesin Linux-nya dijadikan Web Server space-nya agak
diperbesar
6. /tmp -> Untuk menyimpan file-file temporary
7. /usr
Tapi partisi-partisi ini dibentuk secara manual & biasanya untuk penggunaan
mesin Linux sebagai Server (bukan untuk keperluan Desktop)

Kalau mau menggunakan Linux Distro Mandrake / Mandriva, biasanya ada pilihan
Use Free Partision atau Free Windows Space. Yang arti-nya instalasi Linux
mau dilakukan pasa sisa partisi yang tersedia atau pada siswa space dari O/S
Windows-nya. Proses instalsi-nya juga cenderung lebih Mudah karena ada
pilihan instalasi mengunakan GUI yg mirip dengan O/S Windows. Tinggal Next,
Next, Next, ada pertanyaan jawab Yes, Kalau setuju jawab Aggree, kalau
bingung tekan Cancel & Selesai Finish :D

Kalau mau instalasi Linux untuk coba-coba dan tidak beresiko tinggi, coba
saja gunakan Virtual Machine (Misalnya : VMWare). Kamu bisa Install
VMWare-nya di atas Windows 2000/XP/2003 terus isntall Linux-nya di atas O/S
Windows tersebut. Syaratnya punya memory minimal 256 MB, syukur2 bisa sampe
512 MB atau lebih dgn Processor Pentium IV / Celeron.
Kalaupun ada kesalahan instalasi, kan yg rusak Cuma Linux di VMWare-nya aja,
hardisk-nya tidak bermasalah. Karena Linux atau O/S apapun yg di install di
atas VMWare hanya diperlakukan sebagai file bukan partisi hardisk yg
sesungguhnya. Selamat mencoba, semoga bermanfaat. Mau lebih detail ? e-mail
ke wahyudi@bsi.ac.id atau wahyudi@indo.net.id, tapi jangan nanyain crack-nya
yah :D

19 April 2006

Ada Apa Dengan Cinta

Ada Apa Dengan Cinta?
 
Karya : Afifah Afra Amatullah
 

    
 Suatu hari, tiga tahun yang lalu, saya sedang bete berat. Entah mengapa, dunia terasa sempit, sumpek dan menyebalkan. Padahal banyak pekerjaan yang mestinya saya selesaikan. Laporan praktikum yang bertumpuk, makalah-makalah serta seabrek PR dari banyak organisasi yang kebetulan saya ikuti. Dalam perjalanan pulang menuju kost, mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah wartel. Tanpa tahu mau menelepon siapa dan untuk apa menelepon, saya dengan linglung memasuki salah satu kabin. Sebuah nomor tiba-tiba terpencet otomatis. 8411063! “AssalamuÂ’alaikum…” sebuah suara yang mendadak terasa merdu terdengar. Seperti ada suntikan kesegaran yang luar biasa, mendadak semangat saya bangkit. Percakapan yang mengalir begitu saja telah mengubah dunia yang tadinya abu-abu menjadi penuh warna. Pemilik suara itu adalah seorang sahabat yang sangat dekat dengan saya. Meskipun jarang bertemu, kami yakin, ada cinta yang menginspirasikan berbagai ide mulai dari yang sederhana sampai briliyan. Cinta itu yang kami yakini menjadi pemotivator dari setiap langkah yang kian hari kian berat.

Ah, CintaÂ…
Saya selalu terpana dengan cinta. Membuat pikiran ini dengan susah payah membayangkan seorang Abu Bakar yang tiba-tiba berlari kesana kemari, kadang ke depan, ke samping, lantas tiba-tiba ke belakang rasulullah. Saat itu mereka sedang dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Di belakang, orang-orang kafir Quraisy mengejar, bermaksud membunuh Muhammad SAW. Tentu saja sang nabi terheran-heran. Beliau pun bertanya dan dijawab oleh Abu Bakar, bahwa ketika ia melihat musuh ada di belakang, maka Abu Bakar berlari ke belakang. Jika musuh di depan, Abu Bakar lari ke depan, dan seterusnya. Abu Bakar siap menjadi tameng buat rasulullah. Agar jika ada musuh menyerang, ia lah yang lebih dulu menerimanya.

Itulah cinta. Sama seperti ketika mereka akhirnya kecapekan dan menemukan sebuah gua. Abu Bakar melarang Rasul masuk sebelum ia membersihkan terlebih dulu. Saat membersihkan, Abu Bakar melihat 3 buah lubang. Satu lubang ia tutup dengan sobekan kain bajunya, lalu yang dua ia tutup dengan ibu jari kakinya. Rasul pun tidur di pangkuan Abu Bakar. Pada saat itulah, Abu Bakar merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia digigit ular. Namun ia tidak mau membangunkan Rasul dan terus menahan sakit hingga air matanya menetes. Tetesan itu menimpa rasul dan terbangunlah beliau. Berkat mukzizat Rasul, sakit itu pun berhasil disembuhkan. (Sumber, ‘Berkas-berkas Cahaya Kenabian’, Ahmad Muhammad Assyaf).

Ada apa dengan cinta? Kalau Mbak Izzatul Jannah (salah seorang teman dekat juga) menjawab, “ada energi disana”. Saya sepakat dengan pendapat itu. Bukan karena beliau adalah teman dekat, tetapi karena saya telah merasakannya. Dan saya ingin berbagai cahaya dengan kalian.

Cinta Positif vs Cinta Negatif
Jujur, saya mungkin kurang ngeh jika bicara masalah cinta, karena saya belum menikah. (He…he, mohon doanya ya…). Saya pun alhamdulillah belum sempat pacaran, karena Allah keburu ‘menyesatkan’ saya dari jalan kemaksiatan menuju jalan yang terang benderang, jalan yang kita yakini bersama kebenaran dan keindahannya. Namun justru itulah, saya lantas menikmati cinta yang sejati. Lewat para sahabat yang mengantarkan diri ini semakin hari semakin berkarat (maksudnya kadar karatnya makin tinggi, seperti logam mulia itu lho…) alias semakin baik. Serta tidak ketinggalan, cinta kepada sang pemberi kehidupan alias cinta hakiki yang tertinggi.

Seorang sahabat pernah bernasyid di depan saya, menukil sebuah nasyid yang dipopulerkan oleh SNADA.

Ingin kukatakan, arti cinta kepada dirimu dinda
Agar kau mengerti, arti sesungguhnya
Tak akan terlena dan terbawa, alunan bunga asmara
Yang kan membuat dirimu sengsara

Cinta suci luar biasa, rahmat sang pencipta
Kepada semua hamba-hambanya


Jangan pernah kau berpaling dari cinta
Cinta dari sang maha pencipta
Kau pasti tergodaÂ…

Nyanyian itu membuat saya merenung panjang lebar. Yups, ketemu deh. Ada cinta positif, ada juga cinta negatif. Jika cinta adalah energi, maka akan muncul pula energi positif dan energi negatif.

Adanya energi membuat semua terasa ringan. Dengan energi, gampang saja si Edo misalnya, menghajar serombongan preman yang mengusili pacarnya, Dewi. Konon cinta bisa membuat si penakut menjadi pemberani. Dengan energi pula puasa ramadhan terasa begitu indah, meskipun sebulan penuh kita diperintahkan untuk tidak makan dan minum dari terbit hingga terbenam matahari.

Kendali, itu kuncinya
Energi itu akan di dihasilkan oleh reaktor hati, pembedanya adalah faktor pengendali. PLTN adalah sebuah tempat berlangsungnya reaksi nuklir yang terkendali, sehingga energi yang dilepaskan dapat menjadi komponen yang berfungsi untuk manusia. Itu energi positif.

Jika reaksi nuklir tidak terkendali, bayangkanlah ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan ratusan ribu manusia dan menimbulkan kerugian yang luar biasa. Itu energi negatif.

Karena reaktor tersebut adalah hati, maka semua manusia pasti memilikinya. Positif atau negatif tergantung pada pengendalian manusia tersebut terhadap hati yang dimiliki. Seperti sabda rasulullah SAW :

“Inna fii jasadi mudhghotan Idza sholuhat sholuhal jasadu kulluhu. Waidza fasadat fasadal jasadu kulluhu. Alaa wahiyal qolbu.”

Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruhnya. Ingatlah bahwa ia adalah hati. (HR Bukhari Muslim).

Cinta Negatif, Apaan tuh?!
Adalah cinta yang dialirkan dari energi tak terkendali. Ini nich, cinta yang merusak. Terlahir dari syubhat dah syahwat. Ngakunya moderat, padahal kuno berat. Bagaimana tidak kuno, cinta yang lahir dari syahwat mulai ada sejak jaman bauhela, bagaimana mungkin orang yang tidak pacaran disebut sebagai ‘ketinggalan jaman?’

Cinta negatif kini telah membanjiri pasaran, menebar kemadhorotan. Remaja gelagapan dan tidak tahu jalan, akhirnya ikut-ikutan. Pacaran, free sex, kumpul kebo, selingkuhÂ… mendadak jadi tren. Secara normatif, semua perempuan tidak mau melihat lelaki yang dicintai ngabuburit dengan perempuan lain. Namun anehnya, ia malah berdandan seseksi mungkin agar lelaki lain tertarik padanya.

Mana bisa kesetiaan dipertahankan jika syahwat dikedepankan?

Mau tahu korban dari cinta negatif? Kerusakan moral. Yap! Survey di Yogyakarta menyebutkan 97,05% mahasiswa di Yogya tidak perawan, Survey itu dilakukan kepada 1660 responden dan hanya 3 orang yang mengaku belum melakukan aktivitas seks termasuk masturbasi! Astaghfirullah. Terlepas dari pro dan kontra tentang kashahihan hasil survey itu, jelasÂ… data yang tercatat menunjukan sebuah ketakutan yang luar biasa bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Yogya.

Cinta negatif telah menjelma menjadi teroris! Bukan hanya cinta yang mengeksploitasi seks, juga cinta kepada tahta dan harta yang membuat manusia berubah menjadi serigala yang sanggup tertawa-tawa ketika mengunyah bangkai rekan sendiri.

Menggapai Cinta Positif
Cinta positif adalah cinta yang frame-nya adalah cinta karena Allah. Cinta kepada Allah sebagai cinta yang hakiki, sedang cinta kepada selain Allah dilaksanakan dalam rangka ketaatan kepada Allah. Jika diatas disebutkan bahwa kata kuncinya adalah ‘kendali hati’, maka jelas, untuk menggapai cinta positif, hati harus pertama kali ditundukan. Jika hati telah ditundukkan maka akan bisa kita kendalikan. Jika hati terkendali, yakin deh, seluruh jasad dan akal kita pun mampu selaras dengan sang panglimanya tersebut.

Bahasa Pena?
Jika cinta adalah energi, maka yang terlahir dari cinta adalah produktivitas. Pena hanya salah satu dari banyak pilihan, tergantung pada potensi masing-masing. Saya memilih pena karena profesi saya adalah seorang penulis. Karena bingkai kecintaan itu adalah cinta kepada Allah, maka saya akan menjadikan tarian pena saya sebagai ekspresi kecintaan kepada Allah. Serupa tapi tak sama akan dialami oleh teman-teman yang mahir dibidang lain, memasak, memprogram komputer dan sebagainya. Bukti cinta itu adalah produktivitas. So, jika kita tidak produktif, berarti tidak ada energi yang menggerakan, yang ujung-ujungnya, kamu tidak punya cinta. Kasiaaan deh Luuu.

Ada apa dengan cinta? Jawabnya : ada energi. Muaranya, produktivitas, optimalisasi potensi. Tentu saja yang kita usahakan adalah cinta positif, sehingga produktivitas yang tercetak adalah produktivitas yang positif pula.

Solo, 18 November 2002

Penulis adalah aktivis Forum Lingkar Pena dan Redaktur Majalah Pengembangan Pribadi Remaja Muslim KARIMA

 

1 2 Next